Ini tulisanku di Agustus 2020. Aku nggak ngerti sebenarnya apa yang terejadi sama diriku kali ini. Rasanya seperti ada yang mengganjal dada. Ada yang hilang. Ada marah, kecewa, sedih tapi nggak paham juga sebenarnya apa penyebab utamanya. Apa karena aku memang sedang kecapekaan, capek sama pikiran? capek karena khawatir sama orang yang nggak pernah khawatirin balik? atau iri karena orang lain sudah berhasil melakukan banyak hal sementara aku begini saja? Atau apa penyebabnya.
Aku boleh jujur pada diriku sendiri. Seharusnya aku paham ini, kalau tidak dengan diri sendiri pada siapa lagi?
Kamu kangen sama dia? Iya. Kamu marah dan kecewa sama dia? Kenapa aku marah sama dia? Apa yang kamu cemaskan? Kalau kata orang lain benar, kalau dia sebenarnya sangat toxic dan tidak akan pernah berubah artinya aku salah. Kamu iri ya? Iya. Kenapa? Teman-temanku mendapatkan apa yang aku impikan, aku selama ini bekerja untuk banyak orang, aku peduli lebih baik, tapi aku tidak mendapatkan apa-apa yang aku inginkan dengan lebih cepat. Aku ingin kuliah, punya pekerjaan yang bergaji baik, punya keluarga yang harmonis, pria yang menyayangiku, diusiaku yang sekarang, aku malah belum punya apa-apa. Aku bahkan merasa kesepian bukan karena tidak ada teman, atau menginginkan dicintai. Sebenarnya aku sedang apa? Aku melihat hidup orang lain terlihat menyenangkan dan semua hal dimiliki.
Aku selalu mencintai orang lain denga tulus, tapi aku belum pernah mendapatkan hal serupa dari orang. Teman yang aku pikir dekat dan tahu aku, malah tidak pernah lagi membalas chat bahkan mematikan telpon saat aku mencoba menghubunginya disaat seperti ini.
Coba kita uraikan pelan-pelan ya, apakah memang tidak ada hal yang menyenangkan lagi untuk disyukuri.
Untuk orang yang kamu rindukan. Apakah hatimu benar-benar merindukannya? atau hanya karena kesepian? Apa karena itu saja ataukah memang kamu benar-benar rindu karena kamu masih mencintainya? benarkah cinta masih ada? Jika ya, apapun dosanya padamu, kamu bisa kapan saja menghubunginya meski harus menanggung konsekuensi banyak sekali. Apakah saat itu nanti akan menjadikanmu lebih baik atau lebih buruk? jika pesanmu tidak dibalas, telponmu dimatikan? atau hanya dilihat saja? atau yang lebih buruk dari itu semua.
Memangnya kenapa kalau kamu salah? Dan teman-temanmu benar? Dia sudah melakukan berkali-kali kesalahan yang sama tanpa bertanggung jawab menyelesaikan. Selama ini yang benar adalah kamu menutup matamu dengan cinta dan menganggap dia akan berubah dll. Itu halu yang kamu ciptakan sendiri. Sedangkan sebagian temanmu sudah memberikan black record bahwa dia bukan jenis orang yang akan berubah menjadi lebih baik untuk dirinya sendiri bahkan orang lain. Kamu akan sering dikecewakan dengan halu-mu sendiri. Dia sebenarnya tidak ngapa-ngapain, lagi-lagi orang yang baik tidak akan ambigu dalam menghadapi perempuan baik-baik. Kecuali dia sudah tidak baik-baik.
Apakah ada yang menyuruhmu melakukan kegiatan sosial? apa itu atas dorongan hatimu atau kamu ingin dilihat orang? Kau tidak melakukan ini untuk pansos. Yang sekarang terjadi adalah kamu merasa itu tidak memberikan timbal balik apa-apa.. Siapa yang menjadi motivasimu untuk melakukan ini? Jika hanya manusia, jangan pernah berharap akan menjadi baik. Jika motivasimu Tuhan, kamu nggak perlu complain atau khawatir akan banyak hal, Tuhan pasti melihatnya dari hatimu. Atau maksudmu kau ingin narsis "Tuhan aku sudah sebaik ini, kenapa aku masih begini-begini saja?" Apa kamu yakin amalam-amalan baik semua? dan kamu sebaik itu? Tapi Tuhan Maha Baik. tolong jangan minta Dia menjadikanmu seperti orang-orang yang kau lihat bahagia hidupnya di Medsos, sebab kamu bukan mereka, dan Tuhan akan menjadikanmu hidupmu, hidupmu. bukan hidupmu adalah hidup mereka. Percayai Ia, orang-orang yang memang baik akan selalu jadi perhatian Surga. Sabar. Semua ada waktunya.
Untuk teman-temanmu yang sudah mendapatkan mimpi-mimpinya? apakah kamu sudah croscheck bagaiamana keseharian mereka berjuang untuk itu? apakah kamu sudah berjuang sekeras mereka atau banyak membuang-buang waktu di media sosial malah untuk ngepoin mereka? Jangan begitu! Mereka tidak banyak hidup di medsos seperti mu bukan karena tidak punya kehidupan, sebab kehidupan mereka terlalu berharga untuk dibagi-bagi. Dan sangat sibuk meraih mimpi, yang kebetulan mempinya juga tidak bisa dicapai dengan media sosial. Kamu tolong pikirkan ini sebelum benar-benar merasa paling menderita. Aku lihat kamu hanya kurang fokus saja, dan terlalu memikirkan hal-hal yang sudah hilang atau belum dimiliki, sampai lupa bersyukur bahwa kamu punya banyak hal yang luar biasa yang juga bisa membuat orang lain merasa insecure kalau mereka tahu kamu.
kau tahu fakta tentang dirimu yang banyak kau acuhkan :
1. Kamu punya keluarga yang utuh. Ayah dan Ibu, mereka masih sehat dan bisa melihatmu bertumbuh padahal setiap hari banyak orang meninggal karena virus dan penyakit. Kau lupa ini bukan hal yang kebetulan. Kau lupa bersyukur untuk ini.
2. Adik dan keponakan yang sangat sekali padamu. Kau ingat mereka, saat kamu sedih atau sakit mereka selalu perhatian dan membantu.
3. Dua sahabat yang sabar dan mau menerimamu apa adanya. Kau manja, bukan orang kaya, dan sudah dibuktikan kalau disekolahmu dulu tidak banyak yang mau terima, karena memang tidak semua orang bisa menerima specialnya seseorang, tapi dua orang ini mau melihat nilaimu lebih dalam (semoga). Meskipun begitu jangan pernah menggantungkan bahagia pada sahabat atau manusia. Jangan, karena mereka suatu haripun akan hilang. Entah pergi atau tiada.
4. Kau perempuan yang disayangi anak-anak. Hampir semua anak-anak sayang padamu, tidak terkecuali pria-pria muda yang kadang menggagumimu, itu adalah kelebihanmu.
5. Kamu masih bisa hidup normal meskipun pandemi dimana-mana. Memang jadi banyak dirumah, tapi ayolah bersyukur kamu tidak kelaparan dan bingung kuota internet untuk sekolah.
6.
7
Dan banyak lagi. Aku pikir kamu akan lebih baik jika dimasa krisis ini, menjadikanmu kembali pada dirimu lagi. Kembali pada hobi membaca bukumu, menulis seperti ini, dan melejitkan potensimu yang lain. jika memang mau sekolah lagi, bisa jadi ini saat yang tepat untuk bangkit dan belajar lagi. Bukan malah menghabiskan diri di media sosialkan? take break, kamu lelah, mentalmu juga, jadi istirahat saja dulu. hentikan diri dari banyak hal yang tidak perlu dicemaskan.

Komentar
Posting Komentar