Meraih Mimpi Semuda Mungkin (When While We're Young)


Bulan Agusutus lalu saya menantang diri saya sendiri untuk mengikuti event khusus yang di adakanPerpusda Kaltim, yakni Pemilihan Duta Baca Kalimantan Timur 2018. Kenapa saya mau mencobanya? karena saya merasa sudah waktunya dan ini akan membuat saya memiliki pengalaman baru. Dan saya pun pergi mengikuti ajang tersebut selama 3 hari di luar kota, Samarinda. 

Tidak banyak yang seumuran dengan saya. Itu fakta yang sedikit membuat saya tercekat sesaat. Saya yang saat ini berusia 27 tahun dengan karir yang stabil namun belum bisa menjanjikan banyak hal untuk masa depan, mengikuti ajang pemilihan Duta Baca yang banyak diminati pelajar atau mahasiswa. 

Namun, saya cukup senang diawal karena tidak pernah ada yang menduga jika saya secara usia sudah senior tetapi perkara pengalaman atau bahkan ilmu sudah pasti tidak. Sehingga saya berada disana, seperti biasa mengikuti setiap sesi karantina dengan senang dan antusias, terlebih ketika para peserta lain saling berdikusi dan saya mendapatkan banyak pengetahuan disana. Ya, saya kenal semua teman-teman saya saat itu adalah pemuda-pemuda yang sangat hebat. Mereka adalah pemuda-pemudi 'garis keras'. Sebab, selain menjadi pelajar atau mahasiswa, mereka masih punya waktu dalam hidup mereka untuk peduli orang lain. Peduli pada minat baca orang-orang disekitar. Belum lagi mereka adalah mahasiswa yang juga seorang pekerja. Sehingga bisa saya simpulkan mereka adalah pemuda-pemudi yang terbiasa hidup di keramaian, karena memberi, hidup dalam keberagamaan karena berbuat baik tidak boleh pilih-pilih. 

(malam grandfinal)

Ada yang bahkan sudah memiliki keluarga kecil, seorang ibu rumah tangga muda yang memiliki rumah baca dirumahnya. Dan meminta izin kepada keluarga dan balitanya, untuk mengikuti ajang duta baca untuk belajar. Ya, belajarlah juga yang membuat saya selalu ingin berkubang. Hingga malam puncak, setelah kami belajar dan membuat karya tulisan yang sekiranya dapat kami pertanggung jawabkan sebagai program kami ketika terpilih, duta baca dimenangkan salah satu teman kami Rudy yang saat ini berkuliah sambil bekerja di salah satu perguruan tinggi Kalimantan Timur. Sementara saya, saya cukup puas dan bersyukur bahwa saya hanya di posisi 15 besar.

Sekembalinya dari event tersebut selama perjalanan mungkin saya diam-diam mulai mengevaluasi sekalipun tidak sama sekali terbesit kekecewaan di benak saya, selain kepada kepanitian acara tersebut yang masih banyak kekurangan. Saya senang sekali bisa mendapatkan teman dan saya merasa menang banyak, ketika saya memenangkan hati mereka atau kepercayaan mereka. Itu sudah cukup. Tetapi, evaluasi juga sangat penting bagi saya pribadi untuk bisa mengadakan perbaikan ke depan. 

Saya mengingat-ngingat, bahwa semakin saya muda mungkin saya akan semakin bersinar. (itu canda saya). Ya, teman-teman saya adalah pemuda kisaran 18-25 tahun, orang lain yang tahu ini pasti akan merasa minder lebih dulu untuk berada disana jika tujuan mereka bukan belajar. Saya merasakannya jujur saja, namun saya punya niat lebih dari menang. Ini adalah pesan untuk teman-teman muda yang lain, bahwa selagi muda, semakin teman-teman muda lebih muda, kesempatan terlalu banyak untuk tidak ambil. Karena hal ini mampu membuat saya mengingat kejadian di tahun 2013 lalu, saat saya memenangkan challange dari provider XL-Future Leader dalam hal Public Speaking, saya tidak bisa meneruskan kesempatan saya untuk ikut bergerilnya di kompetensi nasional, karena umur. See, karena umur, saya tidak bisa ikut. Padahal itu adalah kesempatan langka yang akan membuat hard dan soft skill saya bertambah. Karena selama karantina ataupun bonus dalam kompetisi itu adalah menjadi Jendral Meneger XL selama satu minggu. Anda bisa bayangkan kan? Dan saya akan mendapatkan fasilitas sebagai Jendral Meneger, seperti mobil mewah dan apartemen mewah juga kantor pribadi di lantai satu jika saya berkesempatan memenangkannya. (yah ambisi pemuda jaman dulu), tapi itu adalah salah satu motivasi, jika kita mau mengambil kesempatan.

Tapi point terpenting yang ingin saya sampaikan adalah saya merasa ingin mengulang masa-masa muda, masa dimana usia saya masih bisa menjadi syarat mencoba banyak hal dan lebih sering dicari dari pada hari ini, termasuk dalam hal karir atau mencari kerja. Momentum adalah hal yang penting, usia, waktu adalah hal-hal yang tidak dalam kendali kita. Jadi, jika kesempatan terlewat begitu saja terlebih hal tersebut baik dan membangun rasanya sangat disayangkan. 

Dan untuk saya hari ini, 
"Diriku yang sekarang, ikhlaskan yang tidak tergapai, lubang-lubang, impian-impian, menyuskuri yang diterima jauh lebih sulit dari sekedar mencaci yang tidak dimiliki. Kamu tahu sekarang, proses sangat penting dari pada hasil. Bahagialah dengan hal-hal yang lebih random, nikmati itu seperti halnya pancake dan teh dipagi hari, bahagialah."

Komentar