(Eddie in The Theory Of Everything)
Aku turut berduka cita atas kepergian Stephen Hawking, 14 Maret 2018 lalu. Aku merasa kehilangan mungkin karena berkurangnya lagi ilmuwan di semesta ini. Terlepas dari setiap keunikan yang Hawking miliki, tentang kepercayaannya. Aku yakin dia tetaplah orang yang di cintai Tuhan bagaimanapun dia. Bukankah kita juga sudah membuktikan berulang kali soal teori ini? Dan aku berharap ia mendapatkan tempat terbaik atas sumbangsihnya pada ilmu pengetahuan atas kesabarannya dengan penyakit.
Setelah beliau pergi, aku pun jadi "pencari Hawking". Film dokumenternya pun terbit kembali mengisi kebanyakan search egine google, chanel-chanel televisi. Aku melihatnya 3 tahun yang lalu. Dan seperti kebanyakn orang tentang film tersebut, aku tersentuh dan film tersebut menginspirasi sekali. Meski sebagian penonton juga menantikan, bagaimana 'keimanan' Hawking di ceritakan hingga menjadi Atheis.Aku bahkan memikirkannya sejak saat itu, dan bahkan mencamtumkannya dalam novel pertamaku 'Replay' mengenai pandangan Hawking yang agaknya orientalisme menurutku.
Dalam agamaku sendiri, setiap mahkluk yang berpikiran seperti manusia akan memiliki drajat mulia di sisi Tuhan ketika mereka berilmu. Menggunakan otaknya untuk berpikir, menerjemahkan kitab-kitab kauniyah (kitab alam semesta) yang tidak banyak bisa dibaca orang. Bagiku tataran Hawking dan para ilmuwan lain adalah mereka. Yang mampu membaca kitab-kitab kauniyah sehingga memunculkan pemahaman baru.
Seperti scene saat di terjerat sweter yang akan dilepasnya, memanggil-manggil Jane namun istrinya belum datang. Dia melihat percikan-percikan api di perapian, yang menghantarkannya menemukan teori bahwa 'Blackhole" akan terus membesar dalam pertumbuhannya. Dari sana aku mencoba menggali dan mencari bagaimana tanggapan ilmuwan akan hal tersebut secara real. Jika di filmnya beberapa profesor menyangkalnya dan meninggalkan Hawking dalam presentasi Blackhole, namun teori inipun masih menjadi perdebatan hingga sekarang.
Hawking juga mencetuskan teori Big Bang, bahwa alam semesta dulunya tidak pernah ada dan lahir dari Singularitas (titik ketiadaan yang membuat ilmuwan tidak dapat mengotak-atik area ini) singkat kata dalam keimanan orang-orang beragama bahwa ini adalah area Tuhan yang tidak bisa ditembus siapa-siapa. Tapi bagi ilmuwan, itu omong kosong. Mungkin kita pernah mendengar teori Big Bang dalam beberapa pelajaran atau matakuliah Kealaman dasar atau fisika, namun tidak ada yang bisa menjelaskan detail bagaimana proses pembentukannya. Seperti, ketika teori Big Bang diartikan sebagai sebuah titik kecil, titik apakah itu? blackhole/nebula? ataukah jika itu sebuah ledakan apa yang pertama kali terbentuk dari 10 milyar lebih galaksi? bagi ku pribadi itulah singularitas. Seperti takdir, seperti hal-hal gaib yang kita percayai. Namun jika Tuhan mengizinkannya kita mengerti hal-hal itu suatu hari, maka pastilah akan ada yang menemukan dan mengerti.
Dalam film ini sesungguhnya selain dapat melihat bagaimana pengabdian Jane yang akan aku bahas suatu hari, adalah memperlihatkan bagaimana ilmuwan bekerja. Bedanya kita sedang melihat ilmuwan cerdas bekerja namun tidak beragama sedangkan harapan sebagian penduduk di planet ini mengharap mereka 'bisa melihat Tuhan' atas penelitian-penitian ini. (itu artinya PR untuk setiap umat beragama agar suatu hari bergiat menjadi ilmuwan dan menyibak misteri demi misteri yang Tuhan pegang) sebagai bukti Tuhan benar-benar bekerja.
Aku pernah mengatakan Hawking bisa jadi atheis secara metafore dan sungguhan. Metafor ketika dia bekerja, dia 'meniadakan Tuhan' untuk menindaklanjuti sebuah temuan. Bukan sekedar berpatok kenapa matahari bisa berpijar karena takdir Tuhan. Hawking menyampingkannya untuk memunculkan rasa penasarannya dan menemukan jawabannya. Meski bagiku sendiri hal tersebut tetap tidak bisa dipisahkan. Aku percaya setiap apa-apa yang Allah tuliskan di dalam Al-quran adalah petunjuk. Sekalipun terdengar 'metafor' atau seperti puisi, jelas tidak sama dengan puisi manusia. Aku percaya setiap firman-Nya, selalu bisa dibuktikan dari berbagi segi ilmu yang kita punya sekarang. Aku sangat menyakini itu. Walaupun aku belum membuktikannya satu-satu, Alquran adalah kecerdasan IQ dan EQ Keimanan. Jika belum ditemu, bukan berarti kita ingkari bukan?
Hal itupun yang menggoreskan pertanyaan baru bagiku, kenapa ilmuwan beragama jarang banyak menemukan? atau mungkin bagiku yang beragama Islam dimana sejarah tidak pernah melupakan bahwa beberapa sumbangsih ilmuwan muslim didunia juga beragam dan bermanfaat sepanjang sejarah manusia. Bahkan dalam perjalanan Sultan Muhammad Alfatih, banyak berguru pada ilmuwan muslim yang seorang polymath (seseorang ilmuwan yang bisa segala ilmu) untuk bisa merancang strategi dan kekuatan untuk menaklukan Konstatinopel. Ibnu Sina, dll.
Aku pun memikirkan jawabannya dengan positif dan negatif. Kadang, bisa jadi muslim sekarang tidak banyak menghasilkan temuan atau ilmuwan sebanyak dahulu, karena terlalu banyak dari mereka yang menganggap bahwa semua yang ada dalam Al-quran tidak perlu diteliti, sudah jelas Tuhan yang membuat semuanya. Jarang muncul penasaran yang membuat seseorang bertanya 'bagaimana Tuhan membuatnya? jika anda mendiskusikan dengan teman yang pas, anda akan mendapatkan tanggapan menarik yang bisa diolah menjadi referensi pemikiran untuk menemukan, namun ketika anda bertemu dengan teman yang tidak tepat anda bisa mendapatkan judgement luar biasa tidak mengenakan dari anda bisa dituduh kafir dan munafik dan segalanya. Sehingga dampaknya kini, setiap hal yang berbau temuan baru lebih banyak didapatkan oleh orang-orang 'tidak beragama' atau mungkin bukan seorang muslim khususnya.
Para ilmuwan tidak percaya alam semesta akan hancur, Hawking meyakini teorinya bahwa dunia akan hancur dan kembali menjadi titik kecil. Aku pun jadi teringat terjemahan salah satu surah yang kurang lebihnya berbunyi "Bahwa saat sangkala ditiup untuk pertama kali, alam semesta akan berterbangan seperti anai-anai? kita yang ada di bumi akan seperti kapas-kapas ringan yang tak bisa berpegangan. Yang membuatku bertanya lagi, bagaimana bisa alam semesta menjadi seringan itu?"
dan keimananku berkata "Allah bisa melakukan yang Dia mau? bukankah mudah saja selama ini membuat tsunami ataupun gempa?" ya dan selesailah perkara tidak ada temuan yang bisa dijadikan pelajaran manusia kenapa hal tersebut bisa terjadi. Lalu sisi logika pun berkata "kamu harus mencari tahu, cara kerjanya." aku pun mencari meski belum bertemu sepenuhnya bahwa setiap planet dan bintang di alam semesta akan meledak, oleh gerak rotasi yang mereka timbulkan sendiri. Apabila dikembalikan pada teori Hawking tentang Big Bang, di beberapa sumber yang pernah aku baca planet dan bintang memuai dan berubah ukuran setiap hari. Namun gaya gravitasi yang mereka timbulkan tidak bisa membuat kita merasakan bagaimana bumi atau matahari mengembang seperti roti dalam oven setiap waktu. Dalam proses kiamat tadi, belum dapat diprediksikan pasti Matahari atau bumi dahalu yang akan meledak? atau benda-benda lain yang meledak dan mengenai galaksi kita. Titik Singularitas kembali ada.
Aku yakin ini belum tuntas. Sama sekali. Dan ini hanyalah pendapat seorang awam yang kebetulan menyukai alam semesta dan bintang-bintang, semoga teman-teman bisa lebih paham soal ini sehingga punya pemikiran sendiri dan mungkin suatu hari kita bisa mendiskusikannya.
Dari Einsten dan Hawking, tertanya aku adalah salah satunya dari mereka yang sangat penasaran dengan waktu, seperti "duluan mana waktu dan alam semesta, waktu dan cinta, waktu dan bumi?" bedanya Einsten dan Hawking mencari menggunakan ilmu science dan menemukan teori relativitas umum ataupun khusus bahkan teori kuantum. Aku hanya mencari tulisan mereka dan sekarang ikut larut kembali, sejak pernah aku temukan buku Match Albom tentang penjaga waktu, dari sana seperti Allah ingin mengenalkanku sendikit "bahwa kerja waktu tidak ada yang sebentar dan terlambat' sesuatu yang dikerjakan dengan cepat akan membuat waktu berjalan lambat dan sesuatu yang dikerjakan dengan lambat akan membuat waktu bekerja cepat."
:)

Komentar
Posting Komentar