(google)
Jadi semalem sebelum tidur aku nulis tentang beberapa hal yang aku dapatin dan aku baca di sosmed ataupun masalah-masalah laten seputar perempuan yang keliatannya nggak udah-udah. Jadi ini soal pandangan laki-laki ke perempuan atau cowok ke cewek kalau di medsos.
Akhir-akhir ini aku suka baca blog dan lihar youtube-nya Gita Sav. Pertama kesan aku ke dia, kaya biasa aja. Misalnya, ya kaya cewek rata-rata yang ngobrolin make-up mulu dan alhasil tenar karena cantiknya dan piawainya dia dandan. Tapi aku salah, jelas dia lebih dari itu, a mean, kalau kalian juga sempat nyimak sih, bakal setuju kalau opininya kebanyakan masuk akal lah. Dan kadang nggak dibayangin aja ama anak-anak muda semacam aku kali ya.
Tepatnya tadi sore sepulang kerja aku buka-buka lagi koleksi majalah-majalahku yang udah nggak terbit di luaran sana (kalah sama e-magazine). Dan nemuin artikel yang ngebahasa soal gender bagi sebagian wanita, yakni Ariana Granade. Tahu kan? cewek yang nyanyi 'Side To Side' sama Nicky Minaj. Pertama ngebahas soal nama albumnya yang diganti dari Moonlight jadi Dangerios Woman. Ini sebenarnya nggak penting, tapi dari sana sebenarnya Ariana ini pengen memberikan suaranya dia tentang banyaknya pria-pria atau cowok atau siapapun yang sering komen negatif soal dia dan tampilannya doi di medsos.
Selain itu, di twitternya Gita kemarin terakhir juga pada ngomongin begituan, kaya kenapa sih laki tuh suka banget ngasih statement atau komentar yang 'benda' banget ke cewek. Dan alhasil replaynya rame banget pro-kontra disana. Ada yang bilang "Soalnya pun liat pankreasnya nggak keliatan' jadilah mahkluk-mahkluk ini ngeliatnya fisik banget.
Dan disitu di tautin videonya Chef Marinka yang lagi masak nasi goreng di youtube, tapi komen-komennya asli 'pada gagal fokus ragawi' banget dah. Kalian bisa chek sendiri di youtube deh. Dari sini tuh, aku juga nggak pernah habis pikir juga sih, kadang kalau baca atau ngeliat komenan ataupun status laki-laki yang sering banget 'ngobjekin' cewek, seolah-seolah kami-kami ini dibuat untuk menghibur mata mereka, memenuhi ekspektasi mereka. Parahnya kadang terang-terangan bilangin bagian-bagian organ tubuh cewek sebanding dengan benda.
kaya aku pernah nemuin status cowok di fb yang bilangin alis-alis masa kini mirip golok atau clurit. (tuh kan maksud aku disana), apa lagi saat kalian nemu tadi di komenan Chef Marinka pada fokus sama kaosnya, yang udah bikin mereka ampun dah, mikir kotor banget sampe kaya gitu.
Nah hubungannya dengan Ariana dan albumnya, dia capek dapat komen haters terutama cowok-cowok yang sering bilang dia kaya 'murahan', sering dilabelin cewek nggak bener cuma karena pakaian dan yang lainnya. Aku sih nggak ngedukung ya sama perempuan atau cewek-cewek yang katanya ngedukung banget kesetraaan gender trus semena-mena sama 'tubuh sendiri'. Aku ingin feminis sesuai dengan apa yang anut dan pahami, dan aku ingin orang lain menghormati itu. Kalaupun nggak bisa ngikutin atau benerin.
Sampai sekarang pun nggak habis pikir sih, sekalipun aku belum pernah dan nggak ingin tubuh/ fisik aku dinilai-nilai sedemikan rupa terus dijadikan humor-humor mesum sama laki-laki, atau mereka jadikan media rasis atau xenotype bahkan sampae misogyny. Padahal, nyata ibu mereka nggak ada yang nggak cewek, tapi tetep aja bisa semena-mena sama cewek lain.
Kayaknya nggak ada artinya ngerayain feminisme tiap tahun bulan april, ngerayain kartinian sebagai lambang feminisme tapi setiap kali cewek-cewek ini muncul atau wanita-wanita muncul ke permukaan dengan diri mereka utuh jadi manusia, dengan pendapat-pendapat atau penampilan mereka, di potong lidah-lidahnya dengan standar ganda. Jadi, gimana dong harusnya wanita dimasa depan kalau terus-terusan dihukum secara fisik?
Padahal, kalau mau melihat dan mengakui, cewek-cewek ini bisa lebih jago dari pria soal banyak hal. Semisal di DPR aja, wanita kaya apapun kalau domplengan nggak kuat paling banter cuma jadi admin jarang ada yang wanita atau perempuan pekerja DPR bisa jadi teknokratnya (ngurusin hal-hal yang sifatnya lebih sistem). Sekalipun kerjaaan kita seruangan, tetep nggak mau pria di samain drajatnya sama kita. Hal ini, nggak cuma kebawa ke dunia sosial, di keluarga saja masih jarang banget suami-suami menganggap istrinya bukan pembantu. masih sedikit banget yang paham, kalau istrinya itu amanah, bukan diakad-it untuk ngurus dia seperti ibu kalian ngurus kalian. Ini rumah tangga, bukan rumah makan, atau loandry yang mengharuskan istri musti bisa masak, nyuci, beres-beres berasa melamar 'OK CLEAN'. Ini tugas suami-istri bareng-bareng.
Dan kita juga pasti sering denger kan, kalau dirumah ibu atau istri itu ya tugasnya semua perkerjaan rumah tangga, ngurus anak, pokoknya hal-hal yang dimata laki-laki itu rendah banget dah. Kerjanya ayah ya kerja sampe nggak pernah tahu bentuk buku sekolah anaknya gimana? paling entar kalau anak pinter aja, dibilang itu anaknya kalau nggak, itu salah ibunya. Susah kan wanita kalau dilihat dari sini? dia lahir kayaknya dituntut jadi perfect sementara dia cuma manusia biasa sama kaya cowok, sama kaya pria manapun. Tapi aku yakin hal-hal ini sama sekali bukan dari ajaran agama loh ya, bawaan pemikiran nenek moyang dizaman penjajahan menurut aku. Di jaman jahiliyah dimana wanita itu cuma jadi pelayan dari segela aspek. Padahal, kalau di agama aku jelas nggak ada standar ganda beginian, dari awal.Cewek atau cowok dituntut sama-sama pinter, sama-sama pemikir, sama-sama pelaku karena iman nggak cukup kata-kata. Atau mau besar-kecilnya kebaikan dimata Allah itu sama nggak mandang yang ngelakuin cewek atau cowok.
Jadi kemana-mana ngobrolnya, intinnya belajarlah mencintai wanita atau cewek manapun bukan karena karena dia 'benda-benda' bagus, cewek ya cewek (manusia) intinya bukan benda-benda yang kalian sukai.
"Setiap perempuan yang ingin bersikap manusia, seutuhnya harus diingatkan bahwa ada sekelompok status qou, yang akan memperlakukan mereka seperti sebuah humor mesum." Gloria Steinem.
At last, kamu pasti punya pendapat berbeda, tergantung gimana kamunya menilai dan menimbangnya. Aku cuma ngungkapin, bahwa banyak dari kaum aku yang dapat perlakuan begitu, belum bisa merdeka, dari setiap steriotype.
(Ariana Granade-Google)


Komentar
Posting Komentar