Beberapa Hal Yang Nggak Banyak Pria Tahu (He For She Part 2)


(google)

Aku lagi melaksanakan tugas harian aku sebagai pustakawan di kantor, apa yang biasa dilakukan? 
1. Update Status Medsos 
2. Cari-cari info buku 
3. ........
Karena dasarnya aku bukan lulusan perpustakaan, jadi mungkin kalau aku tahu ilmunya hal ini bisa lebih komplet. Tapi yang aku jalanin hari-hari, pagi jam segini update setelahnya stock taking buku-buku baru, ngelabelin, nomorin, nyampul, nyimpen. Aku juga dituntut tahu isinya agar aku bisa ngasih rekomended buat guru-guru yang biasanya nyari bahan ajar buat siswa. (Nah, gitu deh simpelnya). 

Tapi sebenarnya aku nggak akan bahas kerjaan aku, tapi masih tentang isu-isu yang menurut aku penting buat dibahas dan masih soal perempuan. Eh, tulisanku kemarin agak kasar nggak sih, kayaknya aku lagi emosi ya? (hehe). Ok, kali ini aku akan bahas soal hak-hak perempuan yang banyak terabaikan. 

Referensinya aku masih ambil di majalah kawanku. Jadi, aku sendiri sebenernya mesti lebih bersyukur, walau secara posisi demografi aku mungkin jauh banget dari kata maju/ metropolitan, iya kali yah. Sangatta, metropolitan? (heloo..kitty) Cuma gusy, kapan hari aku ajak abang sepupu aku kesini, dia tuh sering banget muji kalau di Sangatta itu nggak ada mobil jelek. Setuju nggak? Aku sih nyengir aja. Nggak ada yang jelek gimana? Belum pernah naik bus Sangatta-Samarinda kali ni orang. (Iyalah). But, mungkin yang dia maksud mobil rumahan atau pribadi kali ya. (ya terserah deh)

Kembali ke topik dimana hal-hal tentang hak-hak perempuan. Jadi aku kemarin baca kalau menurut data UNICEF banyak banget perempuan di seluruh dunia dimana tiap hari sampe 39 ribu terpaksa nikah diusia dini. Pas diselidiki itu alasannya banyak banget sob, yang paling sering karena faktor tradisi dan ekonomi. Ini ngingatin aku sama salah satu episode Nat Geo yang pernah aku tonton, dimana ada gadis kisaran 15 tahunan, udah di suruh ortunya buat menikah dengan pemuda 'terpandang' diwilayahnya. Aku ingatnya dia gadis India ya. Meski, dia diwawancarain nggak rela, karena pengen ngelanjut sekolah tapi dia terikat sama adat dan juga ekonomi keluarga. Alhasil, gadis itu nerima pinangan laki-laki 10 tahunan lebih tua dari dia dan yah, akhirnya dunia remaja 15 tahun disibukan dengan dunia 3M (Masak, Macak, Manak). 

Menurut UNICEF tahun 2013 memperkirakan kisaran tahun 2011-2020, jumlah anak perempuan yang menikah dibawah 18 tahun akan mencapai angka 140-50 juta yang diantaranya belum mencapai usia 15 tahun. Dan yang menyedihkan Asia adalah penyumbang angka terbesar itu disusul Afrika. Sedangkan menurut PKG (Pusat Kajian Gender dan Seksualitas UI) Indonesia menempati urutan ke-2 Se-Asia Tenggara. (Miriskan.. terlepas dari alasannya yang terjadi, umur 15 tahun punya suami dan anak?) 

Fakta ke-2 Putus Sekolah
Kita setuju kalau diluar pulau Kalimantan pun banyak banget adik-adik atau siapa saja yang nggak bisa ngelanjutin sekolah atau dapat pendidikan yang layak. Kayak di Wamena Papua (Kebutulan sohib aku pernah terjun langsung kesana selama setahunan kali ya, atau 3 bulan ikut program Indonesia Mengajar). Belum lagi disini, dimana fasilitas sekolahannya masih tertinggalah dengan kota-kota lain. Menurut UNESCO  ada sekitara 31 Juta anak perempuan yang ada diusia seharusnya sekolah dasar, nggak bisa sekolah dan 116 juta nggak tamat sekolah. 

Point 3 Dibunuh demi nama baik? 
Perempuan bahkan dijaman jahiliyah sebelum Islam ada, Umar Bin Khatab pun pernah ngubur anak perempuannya hidup-hidup, karena dinilai aib. Tapi sampe sekarang pun jahilayah ini masih ada. Karena munurut data PBB ada 5.000 perempuan yang mengalami 'honor killing' setiap tahunnya. yang 1000 diantaranya dari India. Bahkan media Al-Jezeera pernah adain investigasi lanjutan, dan menemukan kalau angkanya lebih dari itu, 20.000 pertahun di India perempuan mengalami 'honor killing'. 

Dan yang terakhir, yang mungkin di giatin banget sama wanita-wanita dunia adalah enggak bisa punya tabungan. 
Jadi nggak semua cewek dibelahan dunia itu boleh punya tabungan, yang nantinya bisa kita pakai untuk membeli barang-barang di masa depan. Menurut Bank Dunia 20% perempuan di dunia tidak diperbolehkan memiliki rekening bank pribadi dan 17% tidak bisa meminjam uang di bank. Dari sini, kaya dunia sepakat banget, wanita nggak boleh hidup mandiri dan kudu bergantung. 

Lagi-lagi catatan ini buat kita belajar bareng, tentang beberapa hal yang terjadi di luar. Kalau aku sendiri merasa, di tempat kerja kebetulan aku nggak ketemu cowok (nggak ada cowok) selain CS. tapi tetap kaya ada gap. Sampe sekarang, cs kalau dimintain tolongin cewek (dipikiran mereka nyuruh) pada ogah-ogahan sih. Aku yakin bawaan bakat lahir (gua cowok gitu loh, lo jangan nyuruh-nyuruh gua), ada di mimik mereka ekspresi begitu meski tipis bangetlah. Tapi dia ambil kerjanya ke CS kan repot jadinya? kalau mau nurutin kodrat (menurut lo) ya carilah kerjaan yang bikin kamu nggak kesel kalau di suruh apalagi sama cewek, (kata pikiranku kadang-kadang). Cuma akunya orang nggak repot sih dan nggak banyak minta bantuan mereka selama ini. 

Kalau di lingkungan keluarga, well, tradisi dan stereotype di keluarga aku masih kuat banget. Dan mungkin kalau aku mikirin lagi pendapat aku kemarin, mungkin karena aku juga belum ngerasa merdeka di keluarga aku sendiri. Jadilah aku ngerasa capek kalau harus ngulangin ini bahkan ketika aku harus nikah nanti. Aku ngarepnya, aku sama suami aku entar bisa kompak dalam segala hal. Aku sendiri, cita-cita banget bisa ngurus anak-suami aku sendiri sebaik mungkin tanpa berhenti berkarir. (kalau kalian pernah baca buku Alpha Female-nya Om Piring, pasti tahu alasannya. Selain karena aku bisa belajar, itu juga bentuk didikan suami mempersiapkan istrinya ketika suatu hari kondisi 'terbalik'. (jauhin balak lah) kaya suami aku bisa mati duluan, atau dia sakit parah, atau kita bercerai dll a mean kita nggak pernah tahu kan semua hal itu bisa terjadi (banyak contohnya hari-hari) perempuan yang punya skill bekerja, akan sangat kasian jika hal itu terjadi. 

Sedangkan di negara kita? Alhamdulilah, meski belum semua hal dan belum mencapai lapisan yang luas, seperti riset UNICEF negara kita penyumbang pernikahan dini terbesar ke-2 se Asia Tenggara, itu bisa dibayangin aja prosentasi perempuan merdeka di negeri kita itu berapa sih, dibandingkan lagi sama laki-laki, walaupun disini pernikahan dini yang sering aku jumpai juga lakinya sama-sama kecil, tapi lebih banyak lakinya yang emang cukup umur nikah 20 keatas. 

Untuk siapapun kamu, semoga ulasa aku ini bisa bikin lebih 'melek' sebab aku ngantuk banget 'coy'. Gila dah, merem-melek nih ngetiknya. Okey, aku udahin sampe sini besok atau kapan disambung lagi. 
Emma Watson (He for She) from google



Komentar